Senin, 24 Mei 2010

Tugas AkhiR

Sampai saat ini masalah pergaulan bebas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal itu mungkin terjadi karena sebagai makhluk sosial, manusia tidak luput dari pergaulan untuk dapat mengembangkan hidupnya secara individu dalam sosial masyarakat.
Dalam 1 Korintus 15:33 dikatakan “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”. Surat Paulus ini ditujukkan kepada Jemaat di Korintus guna memberi peringatan kepada mereka di tengah-tengah maraknya pergaulan bebas Jemaat Korintus. Demikian pula mengingat maraknya pergaulan di kalangan anak-anak muda, kaum remaja, di mana masa remaja adalah masa yang paling berseri. Di masa remaja itu juga proses pencarian jati diri. Dan, di sanalah para remaja banyak terjebak dalam pergaulan bebas. Menurut Program Manajer Dkap PMI Provinsi Riau Nofdianto, seiring Kota Pekanbaru menuju kota metropolitan, pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas yang berakibat pada kekerasan seksual, khususnya berdampak terhadap para remaja perempuan. (www.studentmagz.com/2008/08 diakses 22 May 2010)
Ketika melihat kejadian di sekitar kita, ataupun melalui media komunikasi, banyak perempuan menjadi korban kekerasan seksual yang akan sampai pada titik kehamilan tak diinginkan (KTD).
Masa remaja seringkali dipandang sebagai masa yang paling sulit dibandingkan dengan masa-masa kehidupan yang lain. Pada masa itu ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan dalam menghadapi lingkungan yang terus berubah, serta untuk memenuhi tuntutan dari keluarga dan masyarakat. Mengapa masa remaja menjadi fokus penulisan saya? Jika dihubungkan dengan pergaulan bebas yang membawa kepada kehamilan tak diinginkan, secara fisik, remaja sedang mengalami perkembangan tubuh yang belum sempurna dan belum sampai pada kondisi di mana mereka siap untuk melahirkan. Sementara secara psikis, remaja belum mempunyai mental yang siap untuk menjadi orangtua, karena remaja sedang dalam proses pencarian jati diri. Siapa mereka, bagaimana lingkungan menerima mereka, bagaimana mereka dicintai, bagaimana mereka meng-aktualisasikan diri mereka. Dan hal ini yang mendorong para remaja untuk melakukan apapun, bahkan, demi mendapatkan rasa nyaman itu.
Untuk itu akan menjadi beban psikologis yang luar biasa bagi remaja yang mengalami kehamilan (kehamilan tak diinginkann). Hal itu disebabkan oleh ketidaksiapan mental dari remaja yang mengalami kehamilan tersebut. Bahkan berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan, para remaja yang mengalami KTD bersikap sangat ketakutan, kecewa, dendam, malu, bingung, merasa bersalah dan bahkan mereka tidak lagi memiliki semangat hidup. Kemudian sangat banyak pula cara yang akan dilakukan bagi para perempuan untuk menutup atau menyembunyikan identitas diri baik melalui pernikahan, bahkan hingga sampai pada tahap aborsi, yang secara sempit memiliki arti pengguguran janin dalam kandungan.
Jika dilihat dari segi ekonomi pun seorang remaja sangat belum siap untuk mempunyai anak di usianya yang sangat muda. Itu disebabkan seorang anak yang mengalami kehamilan, otomatis akan mengalami putus sekolah sedangkan hal tersebut merupakan bekal bagi remaja untuk bisa bekerja dan hidup mandiri dalam membiayai kehidupannya. Bila diusianya yang seharusnya belajar untuk memperkaya ilmu harus diganti dengan bekerja untuk mencari nafkah, maka akan menimbulkan kesulitan yang besar dalam hidupnya. Remaja tersebut belum mempunyai pengalaman di dalam dunia kerja, sedangkan pada usia tersebut remaja masih sangat bergantung pada orangtua. Untuk itu kehamilan yang terjadi pada remaja akan membawa dampak yang tidak baik dalam setiap aspek kehidupannya.
Apabila hal tersebut telah dialami, maka, para ibu muda tersebut perlu mendapat bimbingan agar janin dalam kandungan diijinkan untuk mendapat kesempatan hidup, dalam arti tidak diaborsi. Dan juga bagi mereka yang mengalami kehamilan tidak diinginkan agar tidak mengalami depresi serta siap untuk menghadapi kehidupan yang baru dengan menerima diri sepenuhnya.
Penelitian akan dilakukan terhadap beberapa perempuan, yakni para remaja yang mengalami kehamilan tak diinginkan, khususnya yang berada di bawah naungan bimbingan Yayasan Pondok Hayat, Surabaya. Penulis juga akan memberikan pembanding beberapa cara pendampingan terhadap para korban KTD yang pasti mengalami luka hati melalui para ahli untuk melihat sistem pendampingan yang digunakan oleh Yayasan Pondok Hayat untuk mendampingi atau membimbing mereka. Hal ini dilakukan guna mencari pengetahuan lebih dalam mengenai proses pendampingan atau pembimbingan serta jika memungkinkan penulis berharap dapat memberikan rekomendasi yang sekiranya dapat membantu perkembangan baik secara psikologis maupun secara spiritualis terhadap para korban KTD di Yayasan Pondok Hayat, Surabaya.

0 ComMenT: