Rabu, 21 November 2012
Perantauan
Sabtu, 03 November 2012
PoLa Asuh MenentUkaN
Jumat, 26 Agustus 2011
HaRakiRi
Harakiri adalah bunuh diri yang dilakukan oleh para kesatria Jepang, harakiri dilakukan karena merasa malu telah gagal dalam melaksanakan tugas atau tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Memang bangsa Jepang sangat menghargai ‘budaya’ harakiri ini, sehingga orang yang melakukan harakiri kematiannya pun tidak dianggap hina dan nista, tetapi dipandang sebagai kesatria sejati yang rela menghabisi nyawanya demi eksistensinya sebagai kesatria. Namun, harakiri yang dikenal di Jepang, kini telah terjadi di seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia, tetapi sayang esensi harakiri ala Indonesia berbeda dengan esensi harakiri yang dipahami oleh orang Jepang.
Indonesia sebagai negara yang terkenal dengan sikap ketuhanannya, agamais, dan dengan demikian menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Namun dalam kenyataan seperti itu, angka bunuh diri yang terjadi di Indonesia termasuk dalam kategori mengkwatirkan. Pelakunya pun beragam, mulai yang dilakukan oleh orang tua, dewasa, remaja, anak-anak, kaya, miskin, berpendidikan, dan sebagainya.
Fenomena bunuh diri yang terjadi di Indonesia, khususnya yang dilakukan oleh remaja atau pelajar, memunculkan keprihatinan bagi penulis dan mungkin juga bagi setiap orang yang perduli dengan remaja. Bertitik tolak dari keprihatinan tersebut, maka penulis memilih fenomena ini untuk diteliti. Sebagai seorang mahasiswa Kristen penulis berkeinginan untuk memberikan sumbangsih terhadap usaha pencegahan bunuh diri di kalangan pelajar, melalui pendekatan pendidikan.
Dalam penelitian tersebut, penulis menemukan beberapa faktor yang penyebab terjadinya bunuh diri di kalangan pelajar. Pertama, psikologis, kedua, sosiologis, ketiga, genetik, keempat, pendidikan yang berorientasi pada pencapaian nilai (kuantitas) bukan bukan pada pengembangan peserta didik secara holistik (kualitas).
Senin, 22 November 2010
Faith Like Potatoes
Frank Rautenbach leads a strong cast as Angus Buchan, a Zambian farmer of Scottish heritage, who leaves his farm in the midst of political unrest and racially charged land reclaims and travels south with his family to start a better life in KwaZulu Natal, South Africa. With nothing more than a caravan on a patch of land, and help from his foreman, Simeon Bhengu, the Buchan family struggle to settle in a new country. Faced with ever mounting challenges, hardships and personal turmoil, Angus quickly spirals down into a life consumed by anger, fear and destruction. Based on the inspiring true story by Angus Buchan the book was adapted for the big screen by Regardt van den Bergh and weaves together the moving life journey of a man who, like his potatoes, grows his faith, unseen until the harvest. Written by Frans Cronje
This inspiring true story of a rugged South African farmer, Angus Buchan, is set in the turbulent hills of the KZN Midlands. Angus' manic quest for material success is slowly transformed into a wild love for God and people, as he wrestles with faith, hope, natural disasters and tragic personal loss. Written by anon.
Selasa, 09 November 2010
Lu aja bisa, masa Gua ga bisa??!!
Satu kalimat menarik, yang berisi sebuah kata yang ndak asing, dan bahkan topi SD kita pun melambangkan kata itu. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani…
Kata TELADAN, memang sangat sering kita dengar. Dan sadar ga sadar, kita pun dituntut untuk menjadi teladan bagi siapapun, di manapun dan kapanpun kita berada.
Kata TELADAN sendiri bagi saya bersifat subyektif. Apa yang dapat saya teladani dari seseorang, berbeda dengan apa yang si ‘A’ teladani dari orang yang sama. Meskipun sama-sama kita meneladani seorang yang sama.
Dan pada kesempatan sore ini, saya akan membagikan apa yang sedang saya teladani dari ‘sesosok’ yang sering disebut ALLAH.
Berdasar ayat yang kita telah baca tadi, dalam, secara keseluruhan kalo ga salah, ayat dan perikop ini sering dibahas ketika akan berbicara mengenai melayani dan bukan dilayani. Tapi kali ini, secara reflektif dan subyektif saya mau membagikan apa yang ALLAH teladankan dan sedang saya teladani yang pun sangat berat bagi saya secara pribadi,:”Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” ALLAH meneladankan kasih bukan hanya memberi teladan sebuah kasih. Tapi DIA sendiri Lah kasih itu. Namun Bagi saya kata mengasihi masih sangat abstrak. Dan hal konkrit yang menjadi perefleksian saya dan mau saya ajak kita untuk sama-sama belajar, bahwa Dia pernah mengatakan “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” kata ini menjadi teladan dari DIA, sebagai bukti kasih yang sering digembar gemborkan orang Kriten, yang sedang saya teladani dan merupakan hal yang sangat berat. Ga gampang untuk bisa menerima orang lain. Apalagi orang lain itu memiliki prinsip yang benar-benar berbeda, memiliki latar belakang yang “ANCUR” menurut kita, apalagi ketika orang itu memiliki kehidupan yang bertolak belakang dari apa yang menurut kita benar.
Ada seorang tokoh yang sering kita dengar, tokoh ini banyak musuhnya. Banyak yang ga suka karena menurut kebanyakan orang,.. dan mungkin juga menurut kita sekarang, bahwa profesi dan kelakuannya sangat-sangat menyebalkan dan merugikan.
Ketika Tuhan Yesus mau datang makan bersama di rumahnya, semua orang bersungut-sungut dan mengatakan "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
Ada juga perumpamaan yang Dia bagikan pada murid2Nya mengenai seorang yang abis2an diserang para penyamun, yang sering dikenal dgn kisah orang samaria yang baik hati.
Melalui dua kisah ini, yang mau saya sampaikan, bahwa merasa diri benar bahkan paling benar, adalah salah satu hambatan untuk kita bisa menerima orang lain. Jadi, kita harus selalu sadar bahwa di dunia ini semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.
Yang kedua, kita ga mau menempatkan diri pada posisi orang yang tidak bisa kita terima.
Yang ketiga, jangan-jangan kita belum menerima kasih dari Allah secara utuh dalam hidup kita..??? atau kita ga ngerasa kalo Allah menerima kita apa adanya…???? koQ sampe-sampe kita ga bisa menerima orang laen…????
“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.”
Kamis, 04 November 2010
Genggaman tanGan
aku beLajar memahami arti sebuah genggaman tanGan...
Ketika kedua tanGan saLing menggengam...
KembaLi aku meRasakan kehanGatan mengaLir daLam tubuhku..
Seakan kesatuan daLam diri teLah menjadi utuh...
Rabu, 13 Oktober 2010
...I need U...
Banyak kesaLahan yang teLah aku Lakukan dan itu menyakitimu...
Tanpa aku saDaRi, haL itu akan mengGoRes Luka yang daLam di hatimu...
Ketika aku menyadaRinya pun, tak kuasa aku membendung rasa pedih itu...
Banyak hal tak pernah mampu kuketahui mengenai isi hatimu...
Apa peRasaanmu padaku...
Akankah perasaan itu menjadi Lebih baik ataukah akan semakin membuRuk...?
Aku takut kau membenciku...
Aku takut kau membenci diRimu...
JanGan peRnah kamu benci aku...
Aku berkorban segaLanya demi kamu...
Mungkin kamu beLum tau...
Tapi aku yakin suatu saat kamu kan tau rasaku padamu...
Perjuanganku untuk mempeRtahankanmu...
PergumuLanku untuk membeLa kebeRadaanmu...
Tak seoRangpun kan tau apa yang ada daLam hatiku...
Bahkan diriku pun tak paham benaR mengenai rasa ku...
Aku membutuhkanmu...
Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.....
Suatu saat ketika kau membaca tuLisanku ini mungkin kau anggap hanYa sebuah buaLan semata..... Tapi toLong kau pahami... iniLah rasa sebenaRnya yang ada daLam hatiku... bagiku, semua yang aku Lakukan adaLah bukti cintaku padamu...
Aku mencintaimu.....
Rabu, 29 September 2010
Freedom
bebas.... bebas yang seperti apa yang bisa kita 'nikmati' daLam hidup ini...?
ketika kita mengikatkan diri pada sesuatu, ya... kita bebas dari haL Lain..
tapi tanpa kita sadaRi, kita 'mengikatkan' diri pada sesuatu
yang 'seoLah-oLah' membebaskan kita..
Dalam hal ini saya katakan 'seolah-olah' karena memang memiliki dua sisi. di satu sisi nampak membebaskan, di sisi Lain, ternyata mengikatkan kita pada 'kebebasan' itu sendiri...
Manusia, sebagai makhluk sosial tak pernah bisa dikatakan bebas secara utuh. Manusia tak pernah bisa menganggap dirinya bebas. Mungkin hanya bebas dalam satu sisi, namun terikat di sisi yang Lain..
Dalam Lingkungan pertemanan.
Mungkin bisa dikatakan kita bebas memilih dengan siapa kita berteman.
Tapi tanpa kita sadari, ketika kita menentukan keputusan, kita pun beRaRti mengikatkan diri kita pada keputusan itu.
Keputusan kita akan membatasi geRak diri kita teRhadap keputusan yang Lain.
Jadi, menurut saya, tak ada kebebasan yang benar-benar bebas yang dapat manusia rasakan dan nikmati.
Bahkan, dengan berani saya katakan bahwa daLam Lingkup kebebasan kita untuk memiLih pun, kita terikat di daLamnya. Kita terikat daLam kebebasan untuk memiLih. Hal ini saya katakan karena bagi saya, tidak mungkin jika kita tidak memiLih. Ketika pun kita tidak memiLih, kita akan teRikat daLam suatu LingkaRan yang tiada henti....
Kamis, 26 Agustus 2010
RamaLan....???

Saya mendapati sebuah bacaan mengenai ramaLan..
Bukan sebuah haL baRu ketika kita mendengar kabar mengenai ramaLan.
Apapun itu... akan mengundang pro dan kontra sebagian masyarakat... yang mengikuti kabar tersebut, tentunya..
ramaLan yang unik yang saya dapati ketika tersusun sangat sistematis oleh si penulis..
seoLah-olah merupakan sebuah sejarah yang... hanya jika kita membacanya di taun terakhir runtutan ramaLan tersebut.. sayangnya taun di mana kita hidup sekarang menjadi uRutan peRtama dari rangkaian sejarah... (yach,.. namanya juga ramaLan... )
ok... seteLah saya membaca berurutan, dan sampai pada bagian akhir saya mendapati sebuah kaLimat.....
"...kemampuannya melihat masa depan karena bantuan makhluk gaib yang mendampinginya dan membisikkan padanya tentang apa yang akan terjadi. Tapi Vanga tidak bisa menjelaskan dari mana makhluk gaib itu berasal. Makluk gaib itulah yang memberinya informasi tentang orang atau apapun yang akan terjadi atau telah terjadi....."
Sang penulis menyatakan bahwa si peramal mendapat bisikan dari roh gaib...
Saya menjadi cuRiga...
kecurigaan saya berangkat dari beberapa artikel mengenai ramal-meramal dalam artikel-artikel yang boleh saya dapatkan beberapa waktu lalu...
Hal itu menyatakan bahwa ketika kita mempercayai ramaLan, berarti kita menyerahkan kehidupan kita di tangan si pembuat ramaLan dalam arti si gaib yang menjadi 'pembimbing' sekaligus 'penasehat' si peRamaL...
dan andai yang ter-ramaL semuanya terjadi, beRaRti si gaib beRhasiL mengarahkan dan men-skenario-kan kehidupan kita...
WOW...!! that's so amaZing..!
maksudku, andai kita semua, kebanyakan oRang dengan kompak untuk tidak menyetujuinya...? hmm... saya yakin hanya kehendak BAPA sajaLah yang pasti akan teRjadi..... ^-^
hmmm.. hm... hm....
Perlu kita perhatikan dengan seksama... bahwa sudah jeLas dan sangat jeLas tertuLis dan sering kita dengar pun patut serta peRlu bahkan wajib kita yakini, bahwa rancanganNya adaLah rancanGan damai sejahteRa dan bukan rancanGan keceLakaan untuk mendatangkan hari depan yang penuh haRapan...
Minggu, 22 Agustus 2010
A to Z bout U
B erada daLam Mu itu Lah keRinduanku
C inta MU meLebihi segaLanya
D ari duLu, sekaRang sampai seLamanya
E ngkau Lah satu-satunya daLam hidupku
F akta yang tak mampu dipungkiri ialah kasihMu
G eLombang badai kehidupan tak mampu pisahkan ku dari kasihMU
H idup ini seutuhnya berada daLam dekapanMU
I niLah jeritan hatiku....
J auh di daLam Lubuk hatiku
K utanamkan benih iman kesetiaan
L uapan emosi jiwa
M akna kekal di hati Sang pencipta...
N un jauh daLam hati, Kau Lah ALLAH...
O h.... Kau ALLAH yang setia...
P ribadi yang tak pernah ingkar janji
Q tuLiskan sajak dari hati
R asa rindu mendaLam di jiwa
S etia MU....
T UHAN...
U mpama mawar yang berduri...
V ictoRy...!!!! teRiakan kemenangan atas kehidupan yang fana...
W aLau banyak beban menimpa...
X tus...
Y esus...
Z at abadi yang kekaL tak teRgoyahkan seLamanya.....